Blog

  • Gagas Gerakan Sajadah, Mahasiswa Kesos UI Kampanyekan Keselamatan Berkendara Bersama Komunitas Ojol

    Gagas Gerakan Sajadah, Mahasiswa Kesos UI Kampanyekan Keselamatan Berkendara Bersama Komunitas Ojol

    TOPNEWS62.COM, JAKARTA – Selasa (13/05/2025) Keselamatan berkendara di jalan raya masih menjadi isu serius yang membutuhkan perhatian semua pihak. Berdasarkan data IRSMS Korlantas Polri periode Januari hingga 5 Agustus 2024, tercatat 79.220 kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan 117.962 orang luka-luka dan meninggal dunia. Sepeda motor menjadi kendaraan paling banyak terlibat kecelakaan, dengan total 552.155 unit.

    Merespons kondisi tersebut, mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia (Kesos UI) berkolaborasi dengan komunitas ojek online (ojol) meluncurkan Gerakan Sajadah (Sabar di Jalan dan Hati-hati). Kampanye ini secara resmi dimulai pada Minggu, 11 Mei 2027, di Markas Ojol Mengaji, Poltangan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

    Gerakan Sajadah mendapatkan dukungan dari Kang Maman Suherman, penulis dan public figur. Melalui siaran video di media sosial, Kang Maman menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa bersama komunitas ojol. "Jalan raya menjadi salah satu pembunuh terbesar di Indonesia, namun masih sering diabaikan. Karena itu, saya mendukung Gerakan Sajadah, sebuah inisiatif yang mengajak kita semua untuk lebih sabar dan hati-hati saat berkendara. Bukan hanya untuk keselamatan diri, tetapi juga untuk penumpang dan pengguna jalan lainnya," ungkap Kang Maman.

    Pelangi Loemongga, Koordinator Gerakan Sajadah, menyatakan bahwa kampanye ini lahir dari keprihatinan akan tingginya angka kecelakaan di Indonesia. "Pada tahun 2023, pengguna ojek online tercatat sebanyak 82 juta orang dan meningkat menjadi 88 juta pada 2024. Ini artinya, semakin banyak pengendara di jalan yang harus lebih berhati-hati," jelas Pelangi.

    Gerakan Sajadah mencakup berbagai kegiatan, mulai dari edukasi keselamatan berkendara, pemasangan stiker keselamatan di kendaraan ojol, berbagi helm standar SNI, hingga kampanye digital melalui media sosial. Melalui kegiatan ini, mahasiswa Kesos UI berupaya menyebarkan pesan-pesan keselamatan berkendara, termasuk penggunaan helm standar SNI, jaket pelindung, dan menjaga jarak aman.

    "Kami berharap, Gerakan Sajadah dapat meningkatkan kesadaran pengendara ojol untuk lebih sabar dan berhati-hati di jalan, sehingga angka kecelakaan dapat ditekan," tambah Pelangi.

    "Edukasi seperti ini sangat penting, terutama bagi kami driver ojek online yang sehari-hari berada di jalan raya. Kesadaran akan keselamatan berkendara bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk penumpang dan keluarga yang menunggu di rumah," ujar Abayandang (51), anggota komunitas Ojol Mengaji yang ikut serta dalam sosialisasi Sajadah.

    Gerakan Sajadah akan berlangsung sepanjang tahun 2025 dan terbuka bagi masyarakat umum yang ingin berpartisipasi atau mendukung kampanye ini.

  • Gerakan Sajadah, Kesos UI dan Komunitas Ojol Kampanyekan Keselamatan Berkendara

    Gerakan Sajadah, Kesos UI dan Komunitas Ojol Kampanyekan Keselamatan Berkendara

    Dok. BMH
    Dok. BMH

    TOPNEWS62.COM, JAKARTA — Tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia terus menjadi perhatian berbagai kalangan. Berdasarkan data IRSMS Korlantas Polri periode Januari hingga 5 Agustus 2024, tercatat sebanyak 79.220 kecelakaan terjadi di jalan raya, mengakibatkan 117.962 orang mengalami luka-luka atau meninggal dunia. Sepeda motor tercatat sebagai kendaraan yang paling banyak terlibat, yakni sebanyak 552.155 unit.

    Merespons situasi tersebut, mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia (Kesos UI) menggagas sebuah inisiatif bertajuk Gerakan Sajadah — akronim dari Sabar di Jalan dan Hati-hati. Gerakan ini diluncurkan secara resmi pada Ahad (11/5/2025) di Markas Komunitas Ojol Mengaji, Poltangan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Inisiatif ini digelar bekerja sama dengan komunitas ojek online (ojol) dan bertujuan meningkatkan kesadaran keselamatan berkendara di kalangan pengemudi maupun masyarakat umum.

    Penulis dan tokoh publik Kang Maman Suherman turut memberikan dukungan terhadap gerakan ini. Dalam video unggahan di media sosial, Kang Maman menyampaikan apresiasinya atas kepedulian para mahasiswa dan komunitas ojol terhadap isu keselamatan berlalu lintas.

    “Jalan raya adalah salah satu pembunuh terbesar di Indonesia, tapi sering luput dari perhatian kita. Karena itu saya mendukung Gerakan Sajadah yang mengajak kita semua untuk lebih sabar dan hati-hati saat berkendara. Ini bukan hanya soal keselamatan pribadi, tapi juga untuk penumpang dan pengguna jalan lainnya,” ujar Kang Maman.

    Pelangi Loemongga, koordinator Gerakan Sajadah, menjelaskan bahwa kampanye ini berangkat dari keprihatinan terhadap meningkatnya kasus kecelakaan dan tingginya jumlah pengguna layanan ojek online. “Pada 2024, pengguna ojol meningkat menjadi 88 juta dari sebelumnya 82 juta pada 2023. Artinya, semakin banyak pengemudi yang perlu diedukasi untuk lebih berhati-hati di jalan,” kata Pelangi.

    Dok. BMH
    Dok. BMH

    Beragam kegiatan digelar dalam kampanye ini, mulai dari edukasi keselamatan berkendara, pemasangan stiker kampanye di kendaraan ojol, pembagian helm berstandar SNI, hingga kampanye digital melalui media sosial. Mahasiswa Kesos UI berharap, melalui pendekatan yang menyentuh langsung komunitas, pesan-pesan keselamatan dapat tersampaikan lebih luas dan berdampak.

    “Kami ingin menanamkan nilai sabar dan hati-hati dalam setiap aktivitas berkendara. Keselamatan bukan hanya tanggung jawab individu, tapi juga komitmen sosial bersama,” imbuh Pelangi.

    Dukungan pun datang dari para mitra pengemudi. Abayandang (51), anggota Komunitas Ojol Mengaji, menyambut baik kegiatan tersebut. “Edukasi seperti ini sangat penting, apalagi bagi kami yang setiap hari berada di jalan. Keselamatan bukan hanya untuk kami, tapi juga untuk penumpang dan keluarga yang menunggu di rumah,” ujarnya.

    Gerakan Sajadah direncanakan berlangsung sepanjang tahun 2025 dan terbuka bagi masyarakat umum yang ingin terlibat maupun mendukung gerakan keselamatan ini.

  • Pahrul Gantikan Ayah Naik Haji Bersama Sang Ibu

    Pahrul Gantikan Ayah Naik Haji Bersama Sang Ibu

    Sumber : Kemenag
    Sumber : Kemenag

    TOPNEWS62.COM, Sibolga (Kemenag) – Di tengah lautan jemaah haji (JCH) yang bersiap berangkat ke Tanah Suci, wajah seorang ibu dan anak tampak tak mampu menyembunyikan kesedihan di balik senyum mereka. Adalah Pitta (56) dan putranya, Pahrul Ramadhan Syahputra (30), yang membawa kisah pilu namun sarat makna tentang cinta, kehilangan, dan bakti.

    Beberapa bulan lalu, pasangan Pitta dan almarhum suaminya, Hapijuddin, telah bersiap menjalankan rukun Islam kelima. Segala persiapan sudah mulai rampung: pembuatan paspor, perekaman biometrik / Saudi Visa Bio (SVB) hingga doa-doa yang telah mereka panjatkan bersama selama bertahun-tahun. Namun takdir berkata lain. Sebelum keberangkatan, Pak Apit (sapaan akrabnya) meninggal dunia akibat penyakit diabetes.

    “Bapak sudah siap betul. Beliau sangat semangat, setiap hari bicara soal Makkah, soal wukuf di Arafah. Tapi ternyata Allah lebih dulu memanggil,” tutur Bu Pitta, matanya basah mengingat kenangan itu.

    Duka itu begitu dalam. Tidak hanya karena kehilangan pasangan hidup, tapi juga karena impian mereka untuk menunaikan haji bersama pupus begitu saja. Namun, di tengah keperihan itu, sang anak sulung, Pahrul, mengambil keputusan besar: menggantikan sang ayah untuk mendampingi ibunya menunaikan ibadah suci.

    “Saya tahu ini berat, tapi saya merasa ini cara saya meneruskan niat mulia Bapak. Dan saya ingin Ibu tidak sendiri. Ini bukan cuma perjalanan haji, ini perjalanan hati,” ujar Pahrul lirih.

    Keputusan itu tak diambil dengan mudah. Pahrul harus mengurus segala proses administrasi pergantian porsi haji, mengurus cuti kerja, dan yang paling penting—mempersiapkan diri secara mental dan spiritual.

    “Awalnya saya ragu, karena saya merasa belum pantas. Tapi setiap kali melihat wajah Ibu, saya tahu ini yang harus saya lakukan,” tambahnya.

    Saat manasik dan detik mendekati keberangkatan haji, suasana haru menyelimuti. Beberapa kerabat yang datang ke rumah tak kuasa menahan air mata saat Pahrul dan Bu Pitta berpamitan. Di tangan Bu Pitta, sebuah kenangan tergenggam erat.

    “Bapak tetap berangkat, lewat Pahrul,” ucapnya, pelan namun pasti. Perjalanan ini bukan sekadar ibadah. Bagi Pahrul dan Bu Pitta, ini adalah bentuk cinta yang tak lekang oleh waktu, pengabdian anak pada orang tua, dan keyakinan bahwa meskipun tubuh sang ayah tiada, ruh dan niat sucinya tetap mengiringi mereka hingga ke Tanah Suci.

    “Haji tahun ini bukan hanya soal menyempurnakan rukun Islam, tapi juga menyempurnakan niat bapak,” tutup Pahrul dengan mata berkaca. (ARA)

  • LPPOM : Pentingnya Peran Laboratorium dalam Sertifikasi Halal

    LPPOM : Pentingnya Peran Laboratorium dalam Sertifikasi Halal

    TOPNEWS62.COM, Jakarta – Dalam konferensi halal internasional di Amerika Serikat, LPPOM MUI kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sistem sertifikasi halal berbasis sains dengan menyoroti peran strategis laboratorium dalam proses verifikasi kehalalan suatu produk.

    Dalam sesi keempat konferensi tersebut, Direktur LPPOM MUI, Muti, menegaskan bahwa laboratorium bukan sekadar pelengkap, tetapi merupakan elemen kunci dalam sistem jaminan halal.

    “Pengujian laboratorium adalah alat verifikasi yang memberikan bukti objektif, sehingga dapat memperkuat keputusan fatwa kehalalan,” ujar Muti.

    LPPOM MUI telah menetapkan standar tinggi dalam pengujian halal melalui laboratoriumnya yang dilengkapi teknologi canggih seperti real-time PCR, LC-MS/MS, ICP-MS, dan GC-FID. Laboratorium ini melayani berbagai sektor industri mulai dari makanan, farmasi, kosmetik, hingga produk konsumen lainnya.

    Muti memaparkan empat peran utama laboratorium LPPOM dalam menjaga akurasi sertifikasi halal:

    1. Layanan Pengujian Halal: Laboratorium LPPOM melayani kebutuhan pengujian halal dari berbagai Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), baik di Indonesia maupun internasional. Semua layanan dilakukan sesuai standar global, seperti ISO/IEC 17025:2017 dan OIC/SMIIC 35:2020, yang mengatur kompetensi laboratorium dalam mendeteksi bahan non-halal.
    2. Pengembangan Metodologi: LPPOM juga berkontribusi dalam pengembangan metode pengujian halal yang digunakan sebagai referensi standar nasional dan internasional. Beberapa metode yang dikembangkan antara lain uji DNA babi umum (SNI ISO/TS 20224-3:2020), uji DNA babi pada gelatin (SNI 9278:2024), dan uji kadar alkohol pada minuman (SNI 8965:2021).
    3. Riset untuk Penetapan Fatwa: Laboratorium LPPOM mendukung Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan menyediakan data ilmiah dalam proses penetapan fatwa, termasuk isu-isu sensitif seperti kadar etanol dalam minuman hingga kandungan senyawa aktif dalam daun kratom.
    4. Inovasi Reagen Lokal: Dalam rangka mewujudkan kemandirian nasional, LPPOM turut mengembangkan reagen halal buatan dalam negeri melalui kolaborasi dengan Avicena Genetics, agar dapat digunakan oleh berbagai laboratorium di Indonesia.

    “Halal bukan hanya label, tapi sebuah sistem jaminan yang harus berbasis ilmu pengetahuan, data, dan keterlacakan. Karena itu, laboratorium adalah garda terdepan dalam membangun kredibilitas sertifikasi halal Indonesia di mata dunia,” tegas Muti.

    Di akhir presentasinya, Muti memberikan apresiasi kepada IFANCA sebagai penyelenggara konferensi dan mendorong kerja sama global antar lembaga sertifikasi halal.

    “Kolaborasi global di bidang laboratorium halal adalah kunci untuk menjaga konsistensi standar, saling pengakuan, dan memperkuat ekosistem halal secara menyeluruh,” ujarnya.

    Laboratorium LPPOM MUI merupakan yang pertama dan satu-satunya di Indonesia yang menyediakan layanan pengujian satu pintu untuk produk halal dan vegan. Layanan ini mencakup pengujian kandungan bahan haram seperti babi dan alkohol, validasi bahan baku, serta konsultasi bagi pelaku usaha yang belum memiliki sertifikat halal.

    Kehadiran LPPOM dalam forum global ini kembali menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam ekosistem halal dunia — bukan hanya melalui fatwa dan regulasi, tetapi juga melalui kekuatan riset ilmiah dan teknologi yang menjadi pondasinya.

  • Joie De Vivre, Parfum Lokal yang Harumkan Kenangan dan Aksi Sosial

    Joie De Vivre, Parfum Lokal yang Harumkan Kenangan dan Aksi Sosial

    Dok. Resolve Asia
    Dok. Resolve Asia

    TOPNEWS62.COM, JAKARTA — Kolaborasi kreatif antara ALT Perfumery dan Dave Hendrik, seorang figur publik nasional, melahirkan Joie De Vivre—parfum lokal dengan karakter khas yang tidak hanya menyentuh indra penciuman, tetapi juga menggugah emosi dan menginspirasi kepedulian sosial.

    Nama Joie De Vivre berasal dari bahasa Prancis yang berarti ‘kebahagiaan dalam menjalani hidup’. Parfum ini resmi diluncurkan pada 22 Maret 2025 di Jakarta, bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Peluncuran ini tak sekadar menjadi momen selebrasi, melainkan juga sebuah ajakan untuk berbagi dan mengenang. Nuansa hangat Idul Fitri yang menyusul peluncuran tersebut memperkuat pesan keakraban dan kasih sayang yang diusung Joie De Vivre.

    ALT Perfumery, sebagai merek parfum lokal Indonesia, dikenal karena keberaniannya dalam menciptakan wewangian orisinal, berbeda dari tren “dupe” yang banyak diikuti oleh brand lokal lainnya. Filosofi ini tercermin dalam Joie De Vivre, yang dirancang bukan hanya untuk memikat hidung, tetapi juga untuk membangun koneksi emosional yang mendalam dengan pemakainya.

    Inspirasi Joie De Vivre datang dari kenangan pribadi Dave Hendrik bersama mendiang ibundanya. Presenter dan penyiar yang telah lama dikenal publik itu mengenang tradisi membuat nastar bersama sang ibu setiap menjelang Lebaran.

    “Bagi saya, aroma nastar itu bukan cuma soal kue, tapi waktu kebersamaan. Itu adalah cinta, kehangatan, dan kebahagiaan,” ujar Dave penuh haru.

    Dari kenangan itulah, ALT Perfumery meracik komposisi wewangian yang unik: perpaduan aroma nanas segar dan manisnya nastar, menghasilkan parfum yang lembut namun menyentuh. Joie De Vivre menjadi simbol nostalgia, kehangatan keluarga, dan nilai-nilai kebudayaan Indonesia yang menghormati orang tua dan kebersamaan.

    Lebih dari sekadar produk parfum, Joie De Vivre juga membawa misi sosial. Sebagian hasil penjualan—sebesar Rp20.000 per botol—akan disalurkan untuk membantu panti werdha, serta mendukung para ibu tunggal (single moms) yang kerap luput dari perhatian. Langkah ini memperkuat komitmen Joie De Vivre sebagai jembatan antara kenangan pribadi dan aksi nyata untuk sesama.

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa lebih dari 10 persen penduduk Indonesia kini berusia lanjut, banyak di antaranya hidup dalam keterbatasan. Melalui Joie De Vivre, ALT Perfumery dan Dave Hendrik berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi mereka yang membutuhkan kehangatan dan perhatian.

    Dok. Resolve Asia
    Dok. Resolve Asia

    “Parfum bagi kami bukan sekadar wewangian. Ia adalah bahasa yang lembut untuk menyampaikan rasa—membangkitkan kenangan dan menyentuh hati,” ujar Edwin Surya Yahya, Founder ALT Perfumery. Ia menegaskan bahwa ALT terus berkomitmen menghadirkan produk yang orisinal, bermakna, dan emosional.

    Sejak diluncurkan, Joie De Vivre mendapat sambutan hangat dari publik. Di media sosial, banyak warganet menyebutnya sebagai “aroma pelukan ibu” dan “wangi yang menenangkan hati”. Ini menjadi bukti bahwa Joie De Vivre bukan hanya parfum, melainkan kisah yang hidup dalam setiap semprotan.

    Dalam budaya yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan penghormatan terhadap orang tua, Joie De Vivre hadir sebagai lebih dari sekadar parfum—ia adalah simbol kenangan, cinta, dan kepedulian.